Aku tak merasa kalah dalam penantian ini
Aku hanya merasa lelah yang teramat sangat
Setelah mengurung hatiku dalam cinta yang tak pernah terjawab
Aku seperti tertusuk duri yang tak pernah kusadari
Seberapa dalam meinggalkan luka perih
Menikmati sakitnya sampai tak terasa lagi lua telah mengalirkan darah
Begitu dalamnya cinta menghujam hingga tak bisa kubedakan lagi antara tangis dan tawa
Keduanya telah menjadi satu dalam butiran hampa
Pesan Sponsor
Terbata dalam kataTertatih dalam jejaknya
Tersia-sia tanpa bahagia
Aku mungkin belum kalah, tapi yang pasti aku mulai kecewa
Membawa kakiku berjalan menjauh dari cintamu
Perlahan tapi pasti
Tertahan tapi tak punya daya untuk kembali
| AKU PERGI Setelah melintasi waktu bersimpah pesonamu Kini semua terasa tiada Makna yang terendap lama Dan mendekam dalam gugusan matahari Tak lagi bisa kuraba Semua seperti kembali kosong Harapanku akanmu, Seperti menemui titik penghabisannya Apa gerangan yang terjadi? Tiba-tiba aku enggan mengumbar rinduku Tiba-tiba aku ingin berhenti mencintaimu Mungkinkah karena sikapmu yang makin lama tak lagi membiusku Perlahan menghilang di balik dusta Auramu yang makin pudar oleh sikap tak pasti Angkuhmu melemahkanku Bisumu menyurutkan langkahku Aku lebih baik pergi….. |
| DI UJUNG PAGI Mengapa bahagia beranjak pergi? Jauh kudekap, ditepis sunyi mencercap Sementara, tak sedikit pun kakiku bergerak meninggalkan penantian yang kusekap Di batas rindu, menyekatkan cinta dalam pedih yang meratap Dengan apa lagi kugambarkan jujur dan tulusku? Aku terbentur jawab yang beum juga terungkap Dijerat mimpi semu tanpa penghabisan yang merekat Di ujung pagi, aku tercekat Mendambamu, setiap saat |
| DI TEPI DAMBA Hening terpuruk terikat bayangmu Membatu dalam benak tak mau pergi Mengapa selalu ada bayangmu mengasah tajam Di tepi damba yang berarak menuju hatiku Bersimbah keindahan yang melukis birunya sinar matamu Berpeluh cinta yang mempesonakan bagai sepotong senja Detik ini, aku memeluk hening, untuk dirimu …. |
| DATANGLAH PENANTIAN Apakah desah itu masih setia mengiring hatimu? Di antara debar jantung yang merindukanmu aku memilin seraut wajah yang menghantui malam-malamku Kuingin engkau ada dalam keputus-asaanku Menantimu hingga kaki-kaki tak mampu lagi berjalan Seandainya desah itu masih bisa kucium di sudut malam ini Akan kukatakan pada awan hitam Aku ingin menyapamu meski hanya lewat semilir angin Tak kuasa sudah aku ingin rebah di lapang hatimu Dan menangis di ujung matamu |
Langit mangatup
Dicumbu mendung dan gerimis yang turun sedari pagi
Aku lelap dalam tidur tanpa mimpi
Terlalu banyak kenangan yang tumpah di sore kemarin
Hingga malamku pun terlewati tanpa angan dan khayal lagi Setiap gerakmu adalah catatan dan cerita yang tak lekang oleh masa
Kemarin kita bertemu, hari ini seribu keindahan terbenam dalam memori hati
Tergurat di setiap detak jam yang mengiring detak jantung
Sedang apa engkau, matahariku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar